Hanya 16 Persen Warga Amerika Yakin AI Akan Berguna untuk Masyarakat
Sekilas, survei ini menarik karena kontrasnya tajam. Di satu sisi, ekonomi AI sedang meledak β banyak perusahaan teknologi berlomba-lomba merilis model baru, valuasi startup meroket, dan investasi mengalir deras. Di sisi lain, masyarakat yang seharusnya menjadi penikmat teknologi itu justru malah ragu dan cemas.
Pew Research Center merilis survei pada 17 Juni 2026 yang bertanya kepada warga Amerika tentang pandangan mereka terhadap AI dalam 20 tahun ke depan. Jawabannya tegas: hanya 16 persen yang yakin dampaknya akan positif. Angka ini jauh dari setengah.
Angka yang Menghentak
Angka 16 persen itu terasa lebih mengejutkan kalau kita bandingkan dengan optimisme yang selama ini ditonjolkan oleh industri AI. Perusahaan-perusahaan AI rutin memamerkan kemampuan model mereka, menyebut AI akan mengubah hidup lebih baik, meningkatkan produktivitas, bahkan menyelesaikan krisis iklim.
Warga Amerika tidak yakin.
Sekitar 40 persen responden mengatakan AI justru akan berdampak negatif bagi masyarakat. Artinya, mereka yang pesimis jumlahnya hampir tiga kali lipat dari mereka yang optimistis.
Yang bikin miris: 67 persen tidak percaya pemerintah AS akan bisa mengatur AI secara berarti. Regulator, menurut responden, tidak akan mampu mengimbangi laju perkembangan teknologi ini.
Baca artikel lengkap: https://aibriefing.my.id/posts/2026-08-11-hanya-16-persen-warga-amerika-yakin-ai-positif/
Generasi Muda Justru Paling Pesimis
Ada paradoks lain di sini. Secara umum, orang yang lebih muda biasanya lebih terbuka terhadap teknologi baru. Tapi dalam survei ini, generasi muda di bawah 30 tahun justru menjadi kelompok paling pesimis.
Hanya 14 persen dari kelompok usia di bawah 30 tahun yang menyebut AI akan berdampak positif. Bahkan lebih rendah dari angka nasional 16 persen.
Artinya, orang-orang yang seharusnya paling akrab dengan teknologi β yang tumbuh bersama smartphone, media sosial, dan internet cepat β justru yang paling khawatir.
AI Terlalu Cepat, Terlalu Lambat Diatur
Hampir dua pertiga responden β nearly two-thirds β berpikir bahwa pengembangan AI berjalan terlalu cepat. Mereka bukan anti-teknologi. Sekitar 25 persen warga Amerika sudah menggunakan chatbot AI setiap hari. Tapi penggunaan dukungan.
Survey juga menemukan bahwa 59 persen tidak percaya perusahaan teknologi bisa mengembangkan AI dengan aman. Merek-merek besar yang selama ini memimpin perlombaan AI β OpenAI, Google, Meta, Anthropic β belum berhasil meyakinkan publik bahwa mereka bisa bertanggung jawab.
Siapa yang Pakai AI Setiap Hari?
Di tengah pesimisme itu, penggunaan AI tetap tumbuh. Sekitar 25 persen warga Amerika sudah menggunakan chatbot AI setiap hari. Fungsi utama: riset dan pekerjaan.
ChatGPT mendominasi. According to Pew, 44 persen pengguna dewasa di AS sudah menggunakan ChatGPT β angka ini berlipat ganda sejak 2023.GPT sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, tapi di saat yang sama mereka tidak yakin ke mana arah teknologi ini.
Chatbot Ranking: ChatGPT Jauh Unggul
Berikut distribusi penggunaan chatbot AI di AS according to Pew:
ChatGPT memimpin jauh dengan 44%, diikuti Gemini di 24%, Copilot 17%, dan Meta AI 14%. Grok, Claude, dan Character.ai masing-masing masih di bawah 10%. Perbedaannya cukup mencolok β ChatGPT sudah seperti standar de facto untuk asisten AI.
Gender Gap: Pria Lebih Enthusiast
Ada kesenjangan gender yang konsisten. Pria lebih mungkin menggunakan AI setiap hari (27% versus 20% untuk wanita). Meski penggunaan ChatGPT cenderung sama antara pria dan wanita, pria lebih sering menggunakan merek lain seperti Copilot dan Grok.
Wanita secara umum lebih skeptis terhadap teknologi AI. Ini penting untuk industri, karena jika basis pengguna terus didominasi satu gender, desain dan prioritas produk bisa jadi tidak merata.
AI Sudah Mengubah Cara Orang Mendapatkan Informasi
Enam dari sepuluh responden Pew β 60 persen β mengatakan mereka secara rutin membaca ringkasan yang dihasilkan AI di internet. Di Google, ringkasan AI sudah muncul di hampir setiap pencarian. Orang tidak punya pilihan selain mengkonsumsinya.
Bukan hanya itu. Sekitar setengah warga Amerika mengatakan mereka tidak menggunakan AI chatbot sama sekali. Kelompok ini didominasi lansia: nearly 75 persen warga AS usia 65 tahun ke atas tidak pernah menggunakan chatbot AI.
Yang menarik, mereka yang tidak menggunakan AI bukanlah orang yang tidak punya akses internet. Mereka secara sadar memilih untuk tidak menyentuh teknologi ini. Alasan utama: tidak tertarik dan tidak berniat untuk mencoba di masa depan.
Apa yang Bisa Dipahami dari Survei Ini?
Ada jarak lebar antara hype industri dan perasaan publik. Perusahaan AI terus-menerus berbicara tentang masa depan cerah, tapi di lapangan, banyak warga negara merasa tidak termasuk dalam masa depan itu.
Negara dengan regulasi yang kuat biasanya bisa menjembatani kesenjangan ini. Tapi 67 persen responden yang tidak percaya pemerintah menunjukkan bahwa kepercayaan pada regulator juga rendah.
Survei ini penting bukan karena angka-angkanya, tapi karena menunjukkan bahwa optimisme industri AI tidak otomatis menular ke masyarakat umum. Kalau kesenjangan ini terus melebar, tekanan regulasi bisa makin kencang β bukan dari parlemen saja, tapi dari suara publik yang semakin keras.