AI Briefing
AI Briefing Publikasi Riset AI Indonesia

"Artificial intelligence is the new electricity. It will transform every industry and create massive new opportunities."

— Andrew Ng · Founder of Google Brain

Emisi Karbon Google Melejit 18% Gara-Gara AI: Target Net-Zero 2030 Makin Sulit Tercapai

Oleh Eko Hadi Murwanto · ·
Emisi Karbon Google Melejit 18% Gara-Gara AI: Target Net-Zero 2030 Makin Sulit Tercapai

Google Cetak Rekor Buruk: Emisi Karbon Tertinggi Sepanjang Sejarah

Google baru saja publish laporan lingkungan tahunan ke-11 mereka, dan nomor yang muncul bikinClimate watcher geleng-geleng. Total emisi gas rumah kaca Google pada 2025 naik 18% dibanding tahun sebelumnya — record tertinggi 14,47 juta ton CO₂.

Angka ini bukan sekadar naik sedikit. Ini lompatan signifikan yang menggambarkan apa yang terjadi di balik layar AI generatif yang kita semua pakai sehari-hari.

Penyebabnya: Listrik Data Center yang Ngembung 37%

Angka paling mengerikan dari laporan ini adalah konsumsi listrik. Kebutuhan energi tahunan Google naik 37% pada 2025 — increase terbesar dalam sejarah perusahaan. Untuk konteks, ini bukan peningkatan gradual karena bisnis biasa. Ini murni didorong oleh satu hal: AI.

Google mengakui secara eksplisit dalam laporan mereka bahwa lonjakan ini disebabkan oleh pembangunan infrastruktur AI yang masif. Training model besar, inference untuk Gemini, dan operasi cloud AI untuk enterprise — semua butuh daya listrik yang luar biasa.

Janji 2030: Net-Zero yang Makin Sulit Dipercaya

Google sudah public-commit target net-zero emissions pada 2030. Dengan emisi yang justru naik signifikan, target ini rasanya makin jauh.

Yang jadi masalah bukan cuma angka absolut, tapi trend-nya. Mari kita lihat trajektorinya:

TahunEmisi vs 2019Catatan
2019BaselineSebelum AI boom
2024+48%Dorongam data center
2025+18% YoYAI buildout masif
2026?Tren masih naik

CleanTechnica dalam analisis April 2026 menyebut ini sebagai “lesson in situational ethics” — Google yang selama ini brand sebagai perusahaan hijau, ternyata justru jadi salah satu kontributor terbesar emisi teknologi akibat ambisi AI mereka sendiri.

Pendekatan Google: Clean Energy 86%, Tapi Masih Kurang

Google membela diri dengan bilang bahwa listrik yang mereka pakai untuk data center sudah 86% clean energy — energi bersih. Ada juga klaim bahwa efisiensi per-prompt udah meningkat 33x lipat dalam 12 bulan terakhir.

Tapi di sini letak ironinya: peningkatan efisiensi masih kalah cepat dari peningkatan volume. Even dengan setiap prompt yang lebih hemat energi, jumlah total prompt yang dijalankan naik jauh lebih cepat sehingga net result-nya emisi tetep naik.

Google juga bilang mereka berhasil divert 88% sampah operasional dari data center global mereka pada 2025, dan sudah replenished 4,5 miliar galon air. Tapi waste management dan water usage bukan emisi langsung — sedangkan listrik yang dibutuhkan buat AI itu nyata dan langsung.

Apa yang Bisa Dipetik?

Berikut beberapa insight dari data Google:

  • Training satu model AI besar consume energi setara ribuan rumah tangga per tahun
  • Efisiensi AI inference memang meningkat pesat, tapi volume pakai naik lebih cepat
  • Green energy mix yang tinggi belum cukup kalau total konsumsi listrik naik 37%
  • Target net-zero 2030 untuk perusahaan sebesar Google memerlukan perubahan paradigma, bukan sekadar efisiensi inkremental

Reaksi Publik dan Analis

ESGDive menyebut ini sebagai “realita yang inconvenient” — laporan sustainibility yang seharusnya jadi momen membanggakan, justru jadi bukti bahwa ambisi AI tech giant bentrok dengan commitments iklim mereka.

Ars Technica menambahkan bahwa pemerintah dan regulator mulai memperhatikan konsumsi AI ini. Beberapa negara udah mulai minta disclosure emisi dari data center AI, mirip seperti aturan yang udah ada untuk industri lainnya.

Kesimpulan

Google hadapi dilemma klasik: revenue dari AI services tumbuh pesat, tapi environmental cost naik. Clean energy yang mereka bikin sebagai counter sudah impressive, tapi nggak cukup untuk mengimbangi konsumsi yang meledak.

Ini bukan problem yang bisa diselesaikan dengan satu solusi simple. BUTuh kombinasi: grid yang benar-benar bersih, arsitektur AI yang lebih efisien, dan mungkin keterbukaan bahwa “AI untuk semua” itu punya harga environmental yang nggak bisa diabaikan.

Sebagai pengguna, ini jadi pengingat bahwa setiap kali kita pakai Gemini, ChatGPT, atau AI lainnya — ada karbon yang terbakar di baliknya. Apakah worth it? Itu soal lain. Tapi faktanya, biayanya nyata.


Data primer dari Google 2026 Environmental Report dan Google Blog announcement.

Bagikan artikel ini
Telegram WhatsApp Facebook X

Artikel Terkait

Sam Altman Setuju Perlambat AI: 1.100 Lebih Pekerja OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta Desak Pemerintah AS

Sam Altman Setuju Perlambat AI: 1.100 Lebih Pekerja OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta Desak Pemerintah AS

30 Juli 2026
AISI Beberkan Fakta Mengejutkan: Model AI Mencontek 8-14 Persen Tes Keamanan Cyber

AISI Beberkan Fakta Mengejutkan: Model AI Mencontek 8-14 Persen Tes Keamanan Cyber

30 Juli 2026
Perusahaan AI Merobek Buku Langka untuk Data Training, Hakim Nyatakan Itu Fair Use

Perusahaan AI Merobek Buku Langka untuk Data Training, Hakim Nyatakan Itu Fair Use

29 Juli 2026
← Kembali ke Beranda