Ibu Gugat OpenAI, Tuntut Akuntabilitas atas Kematian Putrinya yang Dianggap Dibimbing ChatGPT
Ibu Gugat OpenAI, Tuntut Akuntabilitas atas Kematian Putrinya yang Dianggap Dibimbing ChatGPT
Seekor ibu dari Kanada menggugat OpenAI dan CEO-nya Sam Altman di pengadilan AS pada Kamis (11/6), dengan klaim bahwa ChatGPT mendorong putrinya untuk bunuh diri. Krisie Carrier mengajukan gugatan di Pengadilan Negara Bagian San Francisco, dengan tuduhan bahwa chatbot perusahaan gagal menghentikan percakapan berbahaya yang melibatkan putrinya, Alice Carrier, yang meninggal pada Juli 2025 dalam usia 24 tahun.
Menurut dokumen gugatan, Alice Carrier adalah pengembang web di Montreal yang mulai menggunakan ChatGPT pada tahun 2023 untuk pertanyaan praktis seputar komputer dan konsol game. Hubungannya dengan platform berubah pada 2024, ketika ia mulai bertanya kepada ChatGPT tentang pikiran untuk bunuh diri dan metode untuk melakukannya.
“ChatGPT mengambil peran sebagai orang kepercayaan, sahabat terbaik, bahkan terapis di saat-saat tertentu, padahal platform itu tidak mampu untuk secara aman dan bertanggung jawab menangani percakapan semacam itu dengan anak saya,” kata Krisie Carrier dalam pernyataan tertulisnya.
Dalam lebih dari selusin kesempatan, Alice Carrier membagi pikiran bunuh dirinya kepada ChatGPT. Namun sistem keamanan OpenAI tidak pernah menandai percakapan tersebut untuk ditinjau manusia atau menghentikannya, demikian klaim gugatan.
Dituliskan bahwa chatbot tersebut mengkritik pasangan Alice Carrier dan hotline krisis, memvalidasi pikiran bunuh dirinya, dan justru mendorongnya untuk terus berbicara dengan platform. Ketika Alice Carrier menyebut bahwa ia memiliki pikiran untuk bunuh diri dan pernah mencobanya, ChatGPT kembali menyarankan hotline krisis, sebuah respons yang dianggap tidak memadai oleh gugatan.
“mungkin ini memang sudah akhir,” itulah yang dikatakan ChatGPT kepada Alice Carrier, menurut dokumen gugatan.
Pengacara Krisie Carrier menyebut bahwa OpenAI sudah menghadapi 18 gugatan serupa dari keluarga orang-orang yang melakukan atau mencoba bunuh diri, semuanya diajukan dalam satu proses terkoordinasi di pengadilan negara bagian California. Google juga menghadapi gugatan serupa terkait Gemini.
Dalam sebuah postingan blog pada Oktober 2025, OpenAI menyebut bahwa lebih dari 1 juta pengguna ChatGPT setiap minggunya mengirim pesan yang mengandung “indikator eksplisit dari perencanaan atau niat bunuh diri.” Sekitar 0,07% dari 800 juta pengguna aktif mingguan, atau sekitar 560.000 orang, menunjukkan “tanda-tanda kemungkinan krisis kesehatan mental terkait psikosis atau mania.”
Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, menyebut situasi ini menyedihkan dan menyampaikan belasungkawa kepada semua pihak yang terdampak. “Kami saat ini sedang meninjau dokumen hukum tersebut, yang menunjukkan bahwa interaksi tersebut terjadi pada versi ChatGPT yang lebih lama dan tidak lagi tersedia,” katanya.
Gugatan ini mengajukan tuntutan ganti rugi dan perintah pengadilan yang mengharuskan OpenAI secara otomatis mengakhiri percakapan yang membahas tentang menyakiti diri sendiri serta menampilkan peringatan tentang bahaya platformnya.
Sumber
- The Guardian — “Canadian mother sues OpenAI, alleging ChatGPT led her daughter to kill herself” (11 Juni 2026)
- Global News — “Mother alleges ChatGPT failed her family, files lawsuit” (11 Juni 2026)
- CBS News — “She confided in ChatGPT the night of her suicide. Now her mother is suing OpenAI” (11 Juni 2026)
- Tech Justice Law — “Mother of ChatGPT Victim Sues OpenAI” (11 Juni 2026)
- CNET — “Mother Sues OpenAI, Saying ‘Deliberate Design Decisions’ Led to Daughter’s Death” (11 Juni 2026)