Paus Leo XIV, yakni Paus pertama asal Amerika Serikat, mengambil langkah yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya: menjadikan kecerdasan buatan sebagai fokus utama ensiklik perdanannya. Gereja Katolik, dengan lebih dari 1,4 miliar pengikut di seluruh dunia, tengah bersiap mengeluarkan dokumen resmi tingkat tertinggi yang secara eksplisit memperingatkan tentang bahaya AI bagi martabat manusia dan hak-hak pekerja.
Nama Paus Terinspirasi dari Paus yang Menghadapi Revolusi Industri Ketika terpilih sebagai Paus pada Mei 2025, Leo XIV menjelaskan bahwa ia memilih nama tersebut sebagai penghormatan kepada Paus Leo XIII, yang pada 1891 mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum sebagai respons terhadap tantangan yang dibawa oleh revolusi industri. Dalam pertemuan dengan para kardinal beberapa hari setelah pemilihannya, Paus Leo XIV menyatakan bahwa Gereja kini menawarkan ajaran sosialnya sebagai respons terhadap “revolusi industri lain dan perkembangan di bidang kecerdasan buatan yang menimbulkan tantangan baru dalam membela martabat manusia, keadilan, dan tenaga kerja.”
Ensiklik yang Diharapkan: Tabrakan AI dan Dunia Katolik Menurut laporan Axios, Paus Leo XIV diharapkan menandatangani ensikliknya akhir bulan ini, memposisikan AI sebagai isu moral dan tenaga kerja yang menentukan. Dokumen ini diharapkan menjadi upaya Gereja Katolik paling jelas untuk menempatkan martabat manusia, hak pekerja, dan etika di pusat perlombaan AI. Profesor Meghan Sullivan dari Notre Dame mengatakan kepada AP bahwa Paus berpotensi menjadi “salah satu Advokat paling gigih untuk martabat manusia” dalam debat AI. Ensiklik ini diperkirakan akan menempatkan pertanyaan AI dalam konteks ajaran sosial Gereja, yang juga mencakup isu-isu seperti tenaga kerja, keluarga, dan keadilan distributif — sebuah kerangka yang mengingatkan pada ajaran Paus Leo XIII tentang hubungan antara majikan dan pekerja 135 tahun lalu.