AI Briefing
AI Briefing Publikasi Riset AI Indonesia

"In five years, AI will be integrated into every product and service. Companies not adopting AI will be left behind."

— Ginni Rometty · Former IBM CEO

Pasien Brain Tumor Pertama yang Disembuhkan dengan AI Surgery Real-Time

Oleh Eko Hadi Murwanto · ·
Pasien Brain Tumor Pertama yang Disembuhkan dengan AI Surgery Real-Time

Rhys Hibbert, 48 tahun dari Bedfordshire, sudah tidak bisa melihat dunia dengan jelas selama lebih dari satu tahun. Tumor di kelenjar pituitari-nya sudah menekan saraf optiknya sampai ia harus berhenti menyetir dan mulai menggunakan tongkat berjalan. Pada Mei 2026, ia menjadi pasien pertama di dunia yang dioperasi dengan panduan AI secara langsung di meja operasi — dan langsung bisa melihat dengan jelas setelah sadar dari bius.

Operasi Pertama dengan Mata AI

Tumor Rhys berukuran 11 milimeter, tumbuh di kelenjar pituitari — selapis jaringan yang cuma terpisah beberapa milimeter dari saraf optik dan pembuluh darah besar. Untuk mengangkat tumor semacam ini, ahli bedah bekerja melalui hidung dengan alat endoskopi, menavigasi ruang yang begitu sempit sampai beda 1 milimeter berarti beda antara sukses dan catastrophe.

Tim di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN) London, bagian dari NHS. Tapi pada Mei 2026, untuk pertama kalinya, mereka melengkapi operasi dengan sistem computer vision yang menonton video langsung dari kamera endoskopi — bukan menggunakan foto MRI pra-operasi yang sudah basi karena otak bergeser selama operasi berlangsung.

“Dengan belajar dari ratusan video operasi, sistem ini sudah melihat lebih banyak kasus daripada ahli bedah manapun yang masih hidup,” kata Sophia Bano, Associate Professor Robotics and AI di UCL dan kepala teknis proyek ini.

Cara Kerjanya

AI ini dibangun di Hawkes Institute UCL, dirancang khusus untuk berjalan di platform NVIDIA Clara IGX — hardware yang memang dibuat untuk inference AI real-time di lingkungan perangkat medis. Sistem ini menggunakan convolutional neural network (CNN) yang dilatih dari ratusan video operasi endoskopi pituitari. Setiap frame dari kamera endoskopi diproses pixel-by-pixel, mengklasifikasi setiap bagian menjadi struktur anatomi tertentu, lalu menampilkannya sebagai label warna-warni di monitor kedua di samping layar utama operasi.

Berbeda dari sistem navigasi bedah yang sudah ada — yang menggunakan foto MRI pra-operasi dan meregistrasikannya ke anatomy pasien — sistem ini punya satu kelemahan fundamental: brain shift. Begitu operasi dimulai, cairan serebrospinal mengalir, tumor diangkat, dan otak bergerak beberapa milimeter. Saat ahli bedah paling butuh panduan, peta statis itu sudah tidak akurat.

UCL system tidak punya masalah itu. Karena menonton apa yang dilihat ahli bedah, sistem ini diperbarui setiap frame, tidak terpengaruh oleh jaringan yang sudah bergeser sejak pasien masuk ruang operasi.

Angka yang Berbicara

Tim UCL tidak melakukan ini secara spekulatif. Hasil penelitian di jurnal npj Digital Medicine (November 2024) menguji versi terdahulu sistem pengenalan anatomi ini pada gambar diam dari 24 peserta: 6 medical students, 6 junior trainees, 6 intermediate trainees, dan 6 ahli bedah senior.

Angka-angkanya bicara:

Bantuan AI meningkatkan akurasi pengenalan anatomi dari DICE score 70,7% menjadi 77,5% — perbaikan 6,7 poin persentase yang signifikan secara statistik. Tapi siapa yang paling diuntungkan dari sistem ini? Medical students — kelompok paling tidak berpengalaman — meningkat dari 66,2% menjadi 78,9%, lonjakan 12,8 poin persentase. Ahli bedah senior juga mendapat manfaat, tapi lebih kecil.

Intinya: nilai sistem AI ini berbanding terbalik dengan keahlian operatornya. Yang paling untung adalah yang paling butuh bantuan.

Apa yang Terjadi di Ruang Operasi

Profesor Hani Marcus dari UCL Queen Square Institute of Neurology memimpin operasi. Dr. Sophia Bano, Associate Professor Robotics and AI di UCL yang menjadi kepala teknis sistem AI ini, menggambarkan jangkauan sistem: “Dengan belajar dari ratusan video operasi, sistem ini sudah melihat lebih banyak kasus daripada ahli bedah manapun yang masih hidup.”

Sepanjang operasi, AI menganalisis feed langsung dari endoskopi dan menampilkan label anatominya di monitor kedua. AI tidak mengontrol alat apapun. Tidak membuat keputusan apapun. Ia hanya berfungsi sebagai “sepasang mata kedua dari ahli yang tidak pernah lelah, tidak pernah kehilangan konsentrasi, dan sudah melihat lebih banyak operasi daripada manusia manapun yang masih hidup,” kata Profesor Marcus.

Ketika Rhys sadar dari bius, penglihatannya langsung membaik. Dalam seminggu, ia sudah berjalan tanpa tongkat dan tanpa kacamata. “Rasanya seperti punya pemandangan panorama 360 derajat ke semua yang ada di sekitar saya,” katanya.

Ia sekarang sudah kembali bekerja sebagai manajer layanan pelanggan dan volunteer jako/unit mobil ambulans komunitas.

Belum Siap untuk Routine

Sistem ini masih berupa alat bantu keputusan, bukan agen otonom. Ahli bedah mempertahankan kendali penuh atas setiap instrumen dan setiap keputusan. Prosedur Mei 2026 dilakukan di bawah uji klinis yang dibiayai NIHR dan Google, dengan oversight etika penelitian. Untuk bisa digunakan secara rutin di rumah sakit lain, sistem ini masih perlu persetujuan regulasi dari Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA).

Riset survei yang terbit di jurnal Surgical Endoscopy pada Juni 2026 menemukan 86,8% ahli bedah percaya AI intraoperatif bisa berdampak positif pada performa bedah mereka. Tapi adopsi di praktik rutin masih terbatas — ada celah yang konsisten antara persepsi positif dan implementasi klinis.

“Sistem ini adalah contoh AI di titik terbaiknya: pasien mendapat perawatan yang sebelumnya dianggap tidak terbayangkan berkat teknologi terbaru,” kata James Frith, Health Innovation Minister. “AI butuh safeguards yang tepat dan kami akan selalu memastikan keamanan adalah prioritas. Tapi kami juga akan memastikan kami mendapat manfaat dari peluang yang ditawarkannya.”

Rumah Sakit Neurosains Tertua di Dunia

NHNN, tempat operasi ini dilakukan, adalah rumah sakit neurosains terbesar dan yang pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya untuk bedah saraf — didirikan tahun 1859. NHNN menangani lebih dari 6.000 pasien rawat inap dan 180.000 pasien rawat jalan setiap tahun.

Untuk Rhys, kebetulan ini terlalu tepat untuk diabaikan. “NHNN adalah rumah sakit bedah saraf khusus pertama di dunia,” katanya. “Jadi buat saya, sangat pas kalau rumah sakit yang sama juga yang pertama melakukan operasi dengan bantuan AI.”

Sumber

  1. TechTimes — “AI Brain Surgery World First: UCL System Saw Live Video, Not Pre-Op Scans, Restoring Patient Sight” (28 Agustus 2026)

  2. BBC News — “AI Helps Perform Brain Surgery on British Man in World First” (27 Agustus 2026)

  3. The Guardian — “London Neurosurgeons Use AI in World-First Brain Tumour Operation” (27 Agustus 2026)

  4. Nature — “Semantic segmentation for endoscopic pituitary surgery” (npj Digital Medicine, November 2024)

  5. Surgical Endoscopy — “Surgeon survey on intraoperative AI” (Juni 2026)

Bagikan artikel ini
Telegram WhatsApp Facebook X

Artikel Terkait

NVIDIA Rilis Nemotron 3.5 Lightning: Model 30B Open-Weight Tercepat untuk AI Agents

NVIDIA Rilis Nemotron 3.5 Lightning: Model 30B Open-Weight Tercepat untuk AI Agents

27 Agustus 2026
← Kembali ke Beranda